aku?

hai.
 ini aku.
namaku, aku.
aku adalah aku, aku.
kau bisa menganggapku hantu.
kau juga boleh menganggapku malaikat.
kau boleh menganggap aku semut, atau nyamuk.
kau boleh menganggap aku noda, sampah, atau kotoran.
kau boleh menganggap aku polisi, wikipedia, atau bahkan google.
kau boleh menamaiku keresek, plastik, trashbag, sobekan kertas, atau tong.
kau boleh menamaiku lampu taman, lampu merah, atau lampu lalu lintas.
kau boleh juga bilang kalau aku seperti layangan atau pesawat.
kau boleh mengganggap aku manusia atau apapun lah itu.
kau boleh mengganggap aku ada atau tidak ada.
kau boleh menamai aku teman atau musuh.
kau boleh benci atau sayang padaku.
kau boleh mengganggapku ada.
kau boleh mengabaikanku.
tetapi aku tak peduli.
tak pernah peduli.
ya, tidak akan.
karena aku
adalah
aku.

Bandung, 10 Juni 2013.
Salam hangat,  Rizki Maulani Mawardi.

Comments

  1. Sebuah Prolog :

    kamu bilang hidup ini berengsek. aku bilang biarin
    kamu bilang hidup ini ga punya arti. aku bilang biarin
    kamu bilang aku nggak punya kepribadian. aku bialng biarin
    kamu bilanng aku nggak punya pengertian. aku bilang biarin
    ...
    kamu bilang aku bajingan. aku bilang biarin
    kamu bilang aku perampok. aku bilang biarin
    ...
    (Yudhistira, Biarin)

    ***

    setelah membaca semua puisi Kikay, jadi ingat apa kata Remy Sylado - Salah satu penyair yang menggaungkan puisi Mbeling itu, sempat mengatakan dalam majalah Aktuil No. 136/1974, bahwa puisi adalah pernyataan akan apa adanya. jika puisi itu pernyataan apa adanya, maka dengan begitu terjemahan mentalnya, hendak diartikan bahwa tanggungjawab moral seorang seniman ialah bagaimana dia memandang semua kehidupan dalam diri dan luar lingkungannya secara menyeluruh, lugu, dan apa adanya. pengunaan kata-kata yang terkadang di anggap biasa, terlupakan keberadaanya, atau bahkan kata-kata yang sering muncul dalam percakapan sehari-hari di sampaikan dengan apa adanya, menarik dan jujur, misalnya kata-kata : nyamuk, hantu, sampah, kotoran, google, wikipedia, dll.

    percakapan-percakapan tunggal dalam diri 'Aku' terasa terdapat di puisi-puisi Kikay, semacam senandika perjalanan mengenal 'Aku'. kemudian menjadikan 'Aku' adalah pusat dari penghayatan kenyataan yang terjadi, misalnya ;

    kau boleh mengabaikanku.
    tetapi aku tak peduli.
    tak pernah peduli.
    ya, tidak akan.
    karena aku
    adalah
    aku.

    "aku adalah aku", merupakan pernyataan monumental yang menjadikan 'Aku' adalah pusat dari gerak penghayatan atas kenyataan sekitarnya. :)

    ***

    ditunggu puisi-puisi barunya kay :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wow!! Thanks a million.
      I appreciate it so much.

      Menulis bukan masalah bagaimana orang akan melihat tulisan itu, tapi yang penting adalah mencerminkan apa kah tulisan itu sebenarnya. Itu yang saya tanamkan dalam benak sejak mulai suka nulis.Karena "setiap pembaca punya hak untuk memberi arti dan memaknai setiap tulisan".

      Terima kasih atas apresiasinya, semoga tulisan saya kedepannya bisa lebih baik lagi. aamiin :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Puisiku

Kemarin

June 12, 2012.