hai namaku....
aaaaaah!! noda ini kenapa harus ada? padahal lukisanku hampir sempurna kalau saja noda setitik ini tidak hadir. ya, lukisan yang sempurna. putih, mulus.
mungkin itu yang ada dipikiran semua orang tentang aku. hai, kenalkan namaku noda, atau bisa juga disebut sampah. aku biasa mengotori kesempurnaan berbagai hal. iya, aku memang dibenci dan tak berguna. aku bahkan selalu tak diinginkan kehadirannya.
namaku noda, ah kalau lebih nyaman memanggil aku sampah ya boleh. yang pasti sama-sama diabaikan.
kalian tahu tidak? menjadi noda atau sampah bukanlah kemauanku sebenarnya. iya, itu bukan pilihanku. tapi entah mengapa aku ditakdirkan menjadi sampah, ya noda. semua orang tak ada yang menghiraukan aku. ah, ada! ada yang menghiraukan aku sepertinya. tapi bukan karena peduli. karena mereke ingin membuangku. membersihkan aku. tidak enak menjadi sampah atau noda. kalian tahu rasanya? ah tidak akan, kalian tidak akan tahu bagaimana rasanya. sebenarnya aku bukan berasal dari kalangan noda. ah, kalian tidak mengerti?
begini, jadi orang-orang disekitarku bukanlah noda sepertiku. mereka orang penting. hanya aku saja yang sampah. ya, noda juga sama saja.
sebenarnya perasaanku bisa dibuat analoginaya. contoh, seperti orang kulit hitam yang ada di tengah2 kerumunan orang kulit putih. merasa asing bukan? merasa tidak nyaman? iya, seperti itulah kira-kira rasanya.
atau bisa juga diibaratkan seperti korban bencana yang diadopsi sebuah keluarga. ketika masuk di tengah keluarga itu pasti akan merasa tidak nyaman. iya kan? ya! tentu saja! kamu jangan mengelak!
pasti rasanya seperti itu. tidak enak. menjadi orang yang berbeda itu "kadang" tidak enak. ketika semua orang mengenal satu sama lain dan kau menjadi satu-satunya orang asing disitu, maka kamu akan merasakan bagaimana perasaaan menjadi sampah ataupun noda.
tenang saja, kamu tidak akan merasakannya. kamu kan bukan noda. tidak seperti aku.
ini pembicaraan dengan satu tema. apa temanya? tidak tahu, tidak diberi judul. tapi seseorang diantara kalian pasti mengerti ini tema apa.
sudah! bicaranya yang jelas! jangan berbelit-belit.
iya..... saat ini si sampah sedang merasa frustasi.
tahu rasanya? oke, coba diulang lagi.
merasa seperti orang asing ditengah-tengah keluarga sendiri. tidak mengenal rumah dan isinya.
ingat. aku ingat ko rumahku. aku ingat keluargaku. tapi aku tidak kenal dengan mereka.
mereka juga tidak kenal aku. mereka tidak tahu siapa aku.
bahkan kehadiranku pun tidak mereka sadari mungkin.
ada rasa yang lain. mau tau apa?
seperti anak baru yang bermain dikerumunan anak2 kelasnya di sekolah.
tidak kenal siapa-siapa. tidak tahu apa-apa. tidak ada yang menganggap dan memedulikan.
lalu dia merasa kecil. merasa hina. iya merasa sangat kecil.
ada rasa lain lagi ternyata.
seperti apa ya? aku tidak ingat lagi rasanya. yang jelas tidak enak.
aku juga tidak tahu sebenarnya ngomong apa. aku aneh. sampah yang aneh.
sudah sampah aneh pula.
ah, sebentar. aku tahu!
aku ini SAMPAH!! bukankah aku memang sudah bilang ya? ah dasar kau!
mungkin itu yang ada dipikiran semua orang tentang aku. hai, kenalkan namaku noda, atau bisa juga disebut sampah. aku biasa mengotori kesempurnaan berbagai hal. iya, aku memang dibenci dan tak berguna. aku bahkan selalu tak diinginkan kehadirannya.
namaku noda, ah kalau lebih nyaman memanggil aku sampah ya boleh. yang pasti sama-sama diabaikan.
kalian tahu tidak? menjadi noda atau sampah bukanlah kemauanku sebenarnya. iya, itu bukan pilihanku. tapi entah mengapa aku ditakdirkan menjadi sampah, ya noda. semua orang tak ada yang menghiraukan aku. ah, ada! ada yang menghiraukan aku sepertinya. tapi bukan karena peduli. karena mereke ingin membuangku. membersihkan aku. tidak enak menjadi sampah atau noda. kalian tahu rasanya? ah tidak akan, kalian tidak akan tahu bagaimana rasanya. sebenarnya aku bukan berasal dari kalangan noda. ah, kalian tidak mengerti?
begini, jadi orang-orang disekitarku bukanlah noda sepertiku. mereka orang penting. hanya aku saja yang sampah. ya, noda juga sama saja.
sebenarnya perasaanku bisa dibuat analoginaya. contoh, seperti orang kulit hitam yang ada di tengah2 kerumunan orang kulit putih. merasa asing bukan? merasa tidak nyaman? iya, seperti itulah kira-kira rasanya.
atau bisa juga diibaratkan seperti korban bencana yang diadopsi sebuah keluarga. ketika masuk di tengah keluarga itu pasti akan merasa tidak nyaman. iya kan? ya! tentu saja! kamu jangan mengelak!
pasti rasanya seperti itu. tidak enak. menjadi orang yang berbeda itu "kadang" tidak enak. ketika semua orang mengenal satu sama lain dan kau menjadi satu-satunya orang asing disitu, maka kamu akan merasakan bagaimana perasaaan menjadi sampah ataupun noda.
tenang saja, kamu tidak akan merasakannya. kamu kan bukan noda. tidak seperti aku.
ini pembicaraan dengan satu tema. apa temanya? tidak tahu, tidak diberi judul. tapi seseorang diantara kalian pasti mengerti ini tema apa.
sudah! bicaranya yang jelas! jangan berbelit-belit.
iya..... saat ini si sampah sedang merasa frustasi.
tahu rasanya? oke, coba diulang lagi.
merasa seperti orang asing ditengah-tengah keluarga sendiri. tidak mengenal rumah dan isinya.
ingat. aku ingat ko rumahku. aku ingat keluargaku. tapi aku tidak kenal dengan mereka.
mereka juga tidak kenal aku. mereka tidak tahu siapa aku.
bahkan kehadiranku pun tidak mereka sadari mungkin.
ada rasa yang lain. mau tau apa?
seperti anak baru yang bermain dikerumunan anak2 kelasnya di sekolah.
tidak kenal siapa-siapa. tidak tahu apa-apa. tidak ada yang menganggap dan memedulikan.
lalu dia merasa kecil. merasa hina. iya merasa sangat kecil.
ada rasa lain lagi ternyata.
seperti apa ya? aku tidak ingat lagi rasanya. yang jelas tidak enak.
aku juga tidak tahu sebenarnya ngomong apa. aku aneh. sampah yang aneh.
sudah sampah aneh pula.
ah, sebentar. aku tahu!
aku ini SAMPAH!! bukankah aku memang sudah bilang ya? ah dasar kau!
Salam hangat,
Rizki Maulani Mawardi.
Comments
Post a Comment