Posts

Showing posts from 2015

Bila Suatu Hari Nanti

Bila suatu hari nanti Kau merasa diri dalam gelap Bialah aku menjadi lampu yang menyinarimu dari jauh Bila suatu hari nanti Kau tak lagi punya hati Biarlah aku menjadi sisa hatimu yang terlupa Bila suatu hari nanti Kau enggan menyebut namaku Biarlah aku menjadi rambu dalam ingatmu yang semu Bila suatu hari nanti Aku tak lagi menunggu Biarlah sisa kenanganku yang menjagamu Di sini, di batu nisan ini

Kini Kamu

Dulu, aku hanya sanggup bicara tentang logika. Tentang cinta dengan rumusan dan segala teorinya. Tentang kasih sayang dengan segala kutipan ajaibnya. Tentang rindu yang menjadi teman dengan sunyi dan heningnya. Puisiku tak lagi tentang semesta. Bukan lagi perihal kebebasan. Tak lagi bicara mengenai aku sendiri dan segala hal yang aku punya. Kini semuanya tentang kamu. Tentang senyuman yang ku lihat disela kedipan mata yang singkat. Tentang tawa yang terdengar disela keramaian pinggir jalan. Tentang cerita yang kusimak syahdu diantara canda. Kini semuanya tentang kamu, semestaku, kebabasanku dan segala hal yang aku punya adalah kamu.

Rindu

Aku tidur lalu aku terbangun. Aku bangun lalu aku diam. Aku diam lalu aku melamun. Aku melamun lalu aku berpikir. Dalam pikirku kulihat sebuah kata "Rindu" satu kata yang aku tak tahu artinya Satu kata yang entah untuk siapa Satu kata yang mampu membuatku tetap terjaga Kata orang rindu bisa bikin kita sakit Tapi aku tak merasakannya Kata orang rindu bisa bikin kita gundah Tapi aku pun tak merasakannya Kata orang rindu bisa bikin kita tak karuan Tapi yang aku rasa bukan itu Yang aku rasa rindu itu seperti sebuah luapan emosi yang entah seperti apa Tak bikin sakit, gundah atau tak karuan Yang aku rasa rindu itu sebuah kata yang Entah akan ku ekpresikan pada siapa Yang aku tahu.... Rindu itu seperti kamu Indah, alami, tak beraturan, banyak misteri. Yang aku tahu.... Rindu itu seperti kamu.. Mungkin. Jatinangor, April 8 2015.

Tak Usah

Aku pernah bilang begadang itu anak waktu sebelah Yang biasa datang habis matahari pulang Sengaja malam ini mata tak aku pejamkan Bintang yang aku lihat tak cukup banyak Mungkin karena kamu sedang tak ada di sini Udara yang aku hirup tak cukup hangat Mungkin juga karena kamu sedang tak ada di sini Bulan yang aku tatap tak cukup terang Itu juga mungkin karena kamu sedang tak ada disini Lalu apa? Aku akan minta kamu datang? Lalu apa? Aku akan minta kamu kembali? Tidak, karena kamu hanyalah ilusi dibalik kilau bintang yang biasa aku lihat. Tidak, karena kamu hanyalah racun yang meresap disela udara yang sedang aku hirup. Tidak, karena kamu hanyalah sebuah kegelapan yang bersembunyi dibalik sinar bulan yang sedang aku tatap. Aku akan membiarkanmu tetap seperti itu, seperti bintang, seperti udara, seperti cahaya bulan. Hanya seperti dan akan kubiarkan tetap menjadi seperti. Karena bagiku kamu itu aku. Kamu adalah aku. Buatanku, ciptaanku, punyaku. Jatinangor, Aptil 8 2015....

Kamu Jauh

Hari ini kita berjumpa namun tak berdua. Tanpa sepatah katapun ku tatap kedua matamu yang tertunduk sayu. Hari ini kita berjumpa setelah sekian lama. Tanpa sepatah katapun ku tatap sosokmu yang mengarah entah kemana. Hari ini kita berjumpa dikerumunan orang lalu-lalang. Tanpa sepatah katapun ku tatap bayanganmu yang kian lama kian hilang. Ingin rasanya kupanggil namamu yang sudah lama tak kuucap. Ingin rasanya kusentuh jemarimu yang rasanya pun aku 'tlah lupa. Ingin rasanya kulihat tawamu yang kian lama kian tak terbayang. Hari ini kita berjumpa setelah sekian lama... Tanpa sepatah katapun kubiarkan kamu pergi jauh, semakin jauh. Hari ini kita berjuma setelah sekian lama... Tanpa sepatah katapun kubiarkan kamu pergi dengan sesal, tanpa kau tahu. Jatinangor, April 8 2015.

Aku tidak sedang ingin

Aku tidak sedang ingin berpuisi Aku tidak sedang ingin menyusun sajak gombal Aku tidak sedang ingin merangkai obrolan bijak Aku tidak sedang ingin bicara simpati Aku tidak sedang ingin mencari hati Aku tidak sedang ingin memamerkan diri Aku hanya ingin seperti ini Seperti anak kecil, sesuka hati Seperti alam... Seperti semesta Seperti kamu, yang muncul secara tiba-tiba. Seperti kamu yang suka hilang tiba-tiba. Seperti kamu yang tak terhingga Aku tidak sedang ingin merayumu Aku hanya ingin seperti ini Bicara denganmu yang duduk manis dalam dunia ciptaanku :) March 11, 2015

Kamu itu apa?

Kamarin aku lihat kamu Indah, romantis, tapi kritis Kemarin aku lihat kamu Indah, syahdu tapi kelabu Kamu itu apa? Penyair? Musisi? Pujangga? Kau tak pernah berkata-kata Lalu kamu itu apa? Koruptor? Eksekutor? Gladiator? Sebenarnya kamu itu apa? March 11, 2015.

Karenamu(?)

Bercerita tentang kesenangan, bukan berarti ia sedang girang. Bercerita tentang kesedihan, bukan berarti ia sedang biru. Bercerita tentang kegamangan, bukan berarti ia sedang bimbang. Bercerita tentang amarah, bukan berarti ia sedang kesal. Mungkin saja ia hanya sedang ingin bercerita. Mungkin saja ia hanya sedang ingin melihat wajahmu dibalik cerita yang ia sajikan. Mungkin saja ia hanya sedang ingin melihatmu mendengar setiap kata yang keluar dari mulutnya. Maka tataplah matanya... Lihatlah gestur tubuhnya... Dengarlah cara bicaranya... Disitu kau akan tahu, Kalau ia bercerita semata-mata karena cinta Karena mu yang selalu ingin dilihatnya... Jatinangor, March 9, 2015. Salam hangat, Rizki Maulani Mawardi :)

Bilang saja, katamu?

"Kalau suka bilang saja" katamu "Kalau benci bilang saja" katamu "Kalau marah bilang saja" katamu "Kalau sedih bilang saja" katamu "Kalau pusing bilang saja" katamu "Kalau kecewa bilang saja" katamu "Kalau kesal bilang saja" katamu "Kalau takut bilang saja" katamu "Kalau bingung bilang saja" katamu "Mau bilang apa?" Tanyaku "Mau bilang pada siapa?" Tanyaku "Mau bilang bagaimana?" Tanyaku Yang aku ingat cuma kamu Yang aku lihat cuma kamu Yang aku dengar cuma kamu Yang aku tahu, aku mengerti kalau kamu hanyalah sebatas ilusi yang tercipta disela angin malam dan dinginnya hujan dini hari. Yang aku tahu, aku mengerti kalau kamu hanyalah sebatas lukisan yang tergambar dalam bayangan ditengah gelapnya langit-langit kamar. Semua bukan cuma sekadar "bilang saja" Bukan sekadar kata-kata yang cuma kau anggap biasa Semua yang tertahan sekian lama S...

Aku, Kamu atau Kita?

Aku, seorang bisu yang ingin selalu mengatakan "Aku cinta Kamu". Aku, seorang buta yang dalam benaknya hanya bisa melihat wajahmu. Aku, seorang tuli yang dalam hatinya selalu mendengar suara kecilmu. Aku, seorang idiot yang dalam ingatanya hanya terpatri namamu. Tapi Kamu, seorang normal yang bahkan tak mampu bicara lebih dari sekadar tentang logika. Kamu, seorang normal yang matanya tak mampu melihat ketulusan yang selalu aku coba tunjukkan. Kamu, seorang normal yang telinganya tak kuasa mendengar bisikan yang selalu ku utarakan. Kamu, seorang normal yang menurut logikanya hanya ingin kesempurnaan. Dan Kita, adalah satu kata yang tak akan pernah terdaftar resmi selayaknya kata Kalian yang bisa dilihat dalam kamus. Kita, adalah kata yang berlaku hanya bagi Aku dan Dirimu yang kubuat sendiri dalam ingatan. Kita, adalah satu kata yang tak mungkin terucap dari bibirmu yang kaku. Tak mungkin terlihat oleh matamu yang terlalu lama melihat dalam gelap. Tak mungkin terd...

Bagi aku, itu kamu!

Cinta itu jahat, sering kali. Cinta itu sadis, sering kali. Cinta itu miris, sering kali. Cinta itu egois, sering kali. Cinta itu laknat, sering kali. . . . Lalu untuk apa ada cinta? Kalau hadirnya saja membuat duka. Lalu untuk apa ada cinta? Kalau hadirnya saja mengundang air mata. Lalu untuk apa ada cinta? Kalau akhirnya saja membawa petaka. . . . Lalu kenapa harus tidak ada cinta? Tanpa cinta bahagia juga tak akan ada. Tanpa cinta rasa pun tak akan ada. Tanpa cinta dunia akan hilang warnanya. . . . Cinta itu duren. Jahat tapi manis. Cinta itu kucing. Lucu tapi kadang suka galak. Cinta itu burung. Kadang sulit digapai. Cinta itu cat, kita adalah kuasnya, dan hidup adalah kanvasnya.... Suka dukanya, cantik jeleknya, hanya kita yang merasa. Kalau bagi aku sih, cinta itu...... kamu! Jatinangor, March 8, 2015. Salam hangat, Rizki Maulani Mawardi :)

Menulis

Buat aku menulis itu “pelampiasan” Pengalih stress dan kepenatan. Tapi kenapa sekarang ia berbeda? Sekarang ia sudah tak mau menemani lagi. Sekarang ia sudah tak mau mendengarkan lagi. Sekarang ia sudah tak mau menenangkan lagi. Kenapa? Kenapa? Aku tanya kenapa…. Aku rindu…. Saat aku bersentuhan dengan pena Dan kertas kosong diatas kasur buluk di kamar yang cahayanya remang. Aku rindu…. Saat kami bercengkrama berdua, bersenda-gurau di kamar yang cahayanya remang. Aku rindu…. Menulis yang seperti kekasih. Aku rindu…. Aku rindu…. Jatinangor, March 8, 2015. Salam Hangat, Rizki Maulani Mawardi :)

Cerita "Cinta"

Hai                                                                       Hai Malam, aku                                                           ada cerita Aku punya cerita                                                 mau dengarkan? Kamu pernah dengar                                           kisah tentang Cinta?            Hari ini ada kabar gembira.                 ...